Peran Guru Besar dan Doktor dalam Pencapaian 500 Besar World Class University

Posted on Posted in Uncategorized

DSC05770

UNAIR NEWS – Dalam rangka upaya untuk mencapai ranking 500 besar dunia tahun 2019 sesuai target dari DIKTI, Universitas Airlangga mengajak semua elemen untuk bersama bahu-membahu mewujudnya hal itu. Semua komponen mulai mahasiswa, staf pengajar/dosen, Guru Besar, alumni, hingga masyarakat kampus sesuai bidangnya mengejar target tersebut.

Untuk itu, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) UNAIR mengajak para pengajar dan peneliti, terutama yang sudah bergelar Doktor dan Professor untuk bersinergi mewujudkan misi tersebut dengan menggelar seminar bertajuk “Peran Guru Besar dan Doktor Universitas Airlangga dalam Pencapaian 500 Besar World Class University”. LP3 menghadirkan Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, Menteri Pendidikan RI era 2009-2014, sebagai nara sumber yang memberikan kuliah umum.

Dalam sambutannya, Prof. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si., ketua LP3 UNAIR mengatakan, untuk menuju 500 besar dunia itu LP3 akan meningkatkan enam hal dasar, meliputi sistem informasi, kurikulum, e-learning, MOOC (Masive open On-line Course), bahan ajar, dan kajian. LP3 menargetkan agar tiap mata kuliah memiliki buku ajar, dan LP3 yang akan menjadi klinik pengembangan buku ajar sekaligus sebagai sumber pendanaannya buku ajar tersebut.

Guru Besar Kimia Farmasi UNAIR ini juga menegaskan sistem pembelajaran Student Centered Learning (SCL) harus mulai diterapkan, bukan sekadar TCL (Teacher Centered Learning). Mahasiswa yang harus aktif belajar, bukan dosen yang aktif mengajar.

Sementara pada kesempatan ini, Prof. M. Nuh memberikan ceramah seputar peran doktor dan profesor dalam menghantarkan perguruan tinggi menjadi World Class University (WCU). “UNAIR kita harapkan menjadi universitas yang harmoni, dan bapak ibu adalah kuncinya,” ujar M. Nuh mengawali.

Dikatakan, di Indonesia jumlah pekerja yang high skill berkemampuan tinggi hanya mencapai sekitar 10 persen. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan prosentase di negara-negara Eropa yang hampir mencapai 50 persen. Di negara tetangga Malaysia, prosentase tenaga dengan level serupa mencapai hampir 30 persen. Melihat perbandingan yang jauh ini, diharapkan Indonesia terus melakukan perbaikan di segala bidang. Perguruan tinggi memiliki peran sentral untuk menghasilkan sumber daya manusia yang terampil.

“Kita (perguruan tinggi, -red) harus menambah sumber daya manusia yang punya kualifikasi kompetisi tinggi. Yang diurus UNAIR bukan hanya internal UNAIR, lebih jauh lagi, UNAIR memiliki kewajiban untuk memajukan bangsa dan kemanusiaan,” ujar M. Nuh.

“Mengapa peradaban di Eropa jauh lebih awal daripada kita? karena mereka melakukan infestasi tenaga pendidik yang luar biasa,” lanjutnya.

Menurut M. Nuh, modal strategis Indonesia pada masa mendatang adalah pendidikan, sekaligus pendidikan sebagai transformasi sosial. Doktor dan profesor punya peran pokok sebagai supporter, driver, enabler, enlightment, dan role model. Peran-peran tersebut baik diwujudkan melalui Tri Darma Perguruan Tinggi secara langsung maupun tidak langsung.

“Sehingga UNAIR harus menjadi pemungkin (Enabler) untuk mengubah dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan akhirnya menjadi kenyataan,” kata Prof. M. Nuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *